Menunggu Itu Membosankan…
May 9th, 2009Sindir menyindir, mengejek, atau saling menjatuhkan dalam politik mungkin adalah hal yang wajar.
“Kenapa saya yakin cepat bertindak dengan Pak Wiranto karena kita yakin lebih cepat lebih baik. Tidak ada di negeri ini yang mau membosankan. Karena yang membosankan itu menunggu,” sindir JK.
Percaya diri dan memberitahukan kelebihan serta kemampuan diri kepada pendukung dan calon pemilih pun suatu yang wajar….
“Kita memenuhi semua kriteria pasangan capres-cawapres, Jawa-Luar Jawa, sipil dan militer. Pak Wiranto militer yang tegas dan mengerti tentang keamanan republik ini sedangkan saya sipil yang banyak akal,” umbar JK.
Senada dengan JK, Wiranto juga menegaskan mereka adalah pasangan paling berani diantara pasangan capres yang ada. Walaupun mendapat perolehan yang tidak signifikan, Wiranto menilai Hanura lebih sigap untuk merespons suasana politik yang ada.
“Bagaimana tidak bersyukur, masih ada partai yang perolehan suaranya 2 kali dari Hanura masih sulit mencari teman cawapres. Tapi Hanura dan Golkar dengan modal komitmen membuktikan bahwa kita lebih berani dibanding lainnya,” kata Wiranto saat memberikan sambutan.
Tetapi kenapa saya melihatnya seperti sebuah kesombongan dengan cara yang sama sekali tidak pantas keluar dari para calon pemimpin. Mereka harus menggunakan cara yang lebih elegan.
Bila kesesama lawan berkompetisi dalam pilpres mereka sudah bisa seperti itu bagaimana bila menghadapai masyarakat yang cukup vokal mengkritik kebijaksanaan yang mereka keluarkan kelak saat mereka memimpin bangsa ini?
Untuk JK dan Wiranto: Tidak perlu menyindir dan umbar kesombongan… sosialisasikan program-program yang katanya Wiranto mengerti tentang keamanan negara dan JK yang banyak akal! biar rakyat tidak membeli kucing dalam karung yang suaranya berisik mengeong terus. Salam, semoga sukses di pilpres!
Sumber kutipan: detik.com